| "Dalam Loka" Istana Kerajaan Sumbawa |
skip to main |
skip to sidebar
Sejak tahun 1674 sampai dengan tahun 1958 (284 tahun) Raja beragama Islam yang pernah memerintah di kerajaan Sumbawa tercatat sebanyak 17 raja. Sebelum itu, Sumbawa dibawah kekuasaan kerajaan Hindu dari Dinasti “Dewa Awan Kuning”. Waktu itu dipimpin seorang raja dengan sebutan Dewa Maja Paruwa yang merupakan raja terakhir dari Dinasti tersebut. Dinasti ini berakhir pada tahun 1673 saat kerajaan Gowa Sulawesi Selatan berhasil menaklukan kerajaan Sumbawa. Berkaitan dengan penaklukan itu, Dewa Maja Paruwa atas nama kerajaan Sumbawa telah menyepakat perjanjian damai yang diajukan raja Gowa. Salah satu syarat dalam perjanjian itu adalah kerajaan Sumbawa bersedia memgang teguh dan menjalankan Syariat Islam dalam pemerintahannya. Pada dasarnya “penaklukan” bertujuan untuk mengajak raja Sumbawa memeluk agama Islam dan ingin melihat Islam menjadi agama resmi kerajaan Sumbawa. Setelah “penaklukan" raja Gowa berhasil, selanjutnya kerajaan Sumbawa bernaung dibawah kerajaan Gowa dan kerajaan Gowa mempunyai kewajiban untuk melindungi kerajaan Sumbawa, sehingga ada ungkapan Sumbawa yang menyebutkan bahwa Gowa payung kekar, Samawa payung komal, artinya kerajaan Gowa memayungi atau melindungi kerajaan Sumbawa.
Catatan Pinggiran
Kamis, 10 Mei 2012
Islam di Kerajaan Sumbawa
Selasa, 11 Oktober 2011
Sumbawa : Bahasa, Tulisan dan Sastra
Suku Samawa adalah campuran kelompok etnik-etnik pendatang yang telah membaur dengan kelompok etnik pendatang yang lebih dahulu mendiami bekas wilayah Kesultanan Sumbawa, sehingga melahirkan kesadaran akan identitas budaya sendiri yang dicirikan dengan kehadiran bahasa Sumbawa atau basa Samawa sebagai bahasa persatuan antaretnik yang mendiami sebagian pulau ini. Mahsun (2002) dalam Prospek Pemekaran Kabupaten Sumbawa mencatat bahwa sebelum bahasa Sumbawa purba (prabahasa Sumbawa) pecah ke dalam empat dialek yang ada sekarang ini, terlebih dahulu pecah ke dalam dua dialek, yaitu pradialek Taliwang-Jereweh-Tongo (KSB) dan dialek Sumbawa Besar atau cikal bakalnya disebut dialek Seran. Kemudian variasi ini berkembang seiring perjalanan waktu hingga memasuki fase historis, pradialek Taliwang-Jereweh-Tongo pecah lagi menjadi tiga dialek yang berdiri sendiri.

